My confession

October 1, 2007

Bersyukur (2)

Filed under: Opini

"… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih" (QS. Ibrahim : 7)

Ustadz Yusuf Mansur dalam bukunya yang berjudul "KUN FAYAKUN, selalu ada harapan di tengah kesulitan" menyampaikan sebuah refleksi diri yang bagus untuk dibaca dan dipahami bersama. Dalam salah satu bagian buku tersebut diceritakan pembicaraan antara dua orang yaitu Luqman dan Haji Muhidin mengenai hakikat syukur (ini menurut opini penulis lho).

Dalam percakapan tersebut, dinyatakan bahwa manusia memelukan musibah, penderitaan untuk bisa tahu apa itu nikmat dan kesenangan yang sesungguhnya. Manusia membutuhkan sakit, untuk tahu betapa pentingnya menjaga kesehatan, manusia butuh stres untuk tahu apa artinya ketenangan.

Sebagaimana telah diungkapkan dalam posting tentang bersyukur sebelumnya, dalam surat Fushshilat ayat 50 – 51 diungkapkan sebagai berikut:

50. Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: "Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku Maka Sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya." Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.

51. Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, Maka ia banyak berdoa.Ketika manusia mendapatkan nikmat, maka manusia mulai berpaling dan menjauhkan diri, bahkan menyatakan bahwa segala nikmat tersebut adalah haknya dan tidak meyakini adanya hari akhir. Namun demikian, ketika malapetaka, musibah, atau bencana itu datang mulailah ia banyak berdoa. Diakui atau tidak, disadari atau tidak, memang inilah sifat yang ada pada diri kita sebagai manusia.

Bilamana dianalogikan pada kehidupan kita selama ini, kadang kita suka benci/sebel dengan orang yang tenyata hanya dekat dengan kita karena ada maksud tertentu (misalnya minta pinjaman uang, atau yang lainnya), namun di saat lain, malah cenderung cuek bebek ketika bertemu. Hal ini hampir sama kejadiannya dengan perumpamaan ayat surat Fushshilat tersebut di atas…

Siapa yang tidak kecewa/benci/sebel dengan keadaan seperti ini. Jangankan dengan Allah, Tuhan yang menciptakan kita, bilamana kita diperlakukan seperti itu, pastinya akan sangat sakit perasaan kita. Oleh karena itu, memang benar apa yang telah disampaikan Allah dalam surat Yunus : 22 yang artinya kurang lebih sebagai berikut:

"Dialah Tuhan yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan, (berlayar) di lautan. Sehingga apabila kamu berada di dalam bahtera, dan meluncurlah bahtera itu membawa orang-orang yang ada di dalamnya dengan tiupan angin yang baik, dan mereka bergembira karenanya, datanglah angin badai, dan (apabila) gelombang dari segenap penjuru menimpanya, dan mereka yakin bahwa mereka telah terkepung (bahaya), maka mereka berdoa kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya semata-mata. (Mereka berkata),"Sesungguhnya jika Engkau menyelamatkan kami dari bahaya ini, pastilah kami akan termasuk orang-orang yang bersyukur."

Dalam kaitannya dengan hal tersebut di atas, dan agar kita terhindar dari menjadi orang-orang yang fasik, sebagaimana diungkapkan dalam Al-Quran surat Al-Hasyr : 19, ada baiknya kita selalu mengingat-ingat nikmat yang telah Allah berikan pada kita sebagai manusia. Sungguh sangat banyak nikmat yang telah diberikan Allah, namun kadang kita tidak menyadarinya.

Contoh konkretnya adalah udara yang kita hirup selama 24 jam dalam sehari yang ternyata sangat gratis, kita tidak perlu membayarnya. Bila saja kita harus membayarnya, entah berapa banyak uang yang harus kita habiskan setiap hari, minggu, bulan dan tahunnya untuk membeli udara tersebut. Belum lagi yang lain. (Sungguh memang sangat banyak nikmat-Mu yang juga sangat sering kami lupakan).

Oleh karena itu, sebagaimana diungkapkan oleh Haji Muhidin dalam buku karangan Ustadz Yusuf Mansur di atas, hendaknya kapan pun, bahkan ketika nikmat Allah itu sangat berlebihan kita dapatkan (kekayaan yang berlimpah, istri/suami yang cantik/tampan, anak yang lucu-lucu dan pintar, badan yang sehat, dan lain sebagainya) kita cepat-cepat ingat kepada Allah, Tuhan semesta alam.

Pada saat kaya, cepat-cepatlah ingat Allah, benahi kelakuan, tidak sombong, dan tidak bertindak dzalim, membantu orang-orang yang tidak mampu. Pada saat sehat, segerakanlah menegakkan punggung untuk shalat, segera merelakan dahi untuk sujud, sehingga kita tidak disadarkan oleh Allah dengan (nikmat) sakit. Dengan menyegerakan diri untuk selalu ingat kepada Allah, dimanapun berada dan dalam keadaan apapun,  Insya Allah kesenangan, kesehatan, kekayaan dan dan lain sebagainya tersebut tidak akan dicabut oleh Allah dan bahkan akan ditambahkan sebagaimana janji Allah dalam surat Ibrahim ayat 7 di atas.

Semoga posting ini dapat menjadi bahan perenungan bagi diri penulis pribadi dan bagi teman-teman yang kebetulan membacanya. Amin…

————————————

Allahumma ya Allah…

Sungguh kami tiada tahan menanggung derita, meski itu sebab kelakuan salah kami

Kami tidak sanggup menahan datangnya akibat buruk, meski itu akibat perbuatan kami sendiri

Kuasa-Mu yang bisa kami harapkan hadir di tengah-tengah permasalahan yang kmai hadapi.

 

Wahai Zat yang tidak pernah menutup pintu,

Seribu kali kami datang padamu membawa permasalahan hidup

Seribu kali kami datang membawa beban hidup kami

Tak kan pernah Engkau terbebani

Kuasa-Mu begitau besar, tak berbatas dan tak bertepi

 

Allahumma ya Allah …

Setelah ampunanmu Engkau tunjukkan

Jangan jadikan kami menjadi orang-orang yang lupa

bahwa kami pernah berdoa kepada-Mu

minta dihilangkan segala susah

Kami manusia yang banyak salahnya,

dan Engkaulah Tuhan yang maha banyak ampunan-Nya

 

Amin

 

disadur dari KUN FAYAKUN, Selalu ada Harapan di tengan Kesulitan (Ust. Yusuf Mansur)

Bersyukur (1)

Filed under: Opini

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah Dia berkata: "Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku Maka Sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya." Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, Maka ia banyak berdoa.” (QS Al-Fushshilat : 49 – 51)

Cuplikan ayat dari surat Al-Fushshilat diatas menggambarkan sifat manusia, termasuk penulis, pada umumnya. Dimana kita selalu memohon kebaikan (emang ada yang memohon keburukan?) setiap saat, namun ternyata ketika kita mendapatkan kebaikan, yang terjadi adalah kita lupa untuk bersyukur bahkan seperti diungkapkan dalam ayat 50 surat tersebut di atas, kita sampai lupa diri seolah-olah kenikmatan tersebut adalah hak kita sepenuhnya.

Tentunya kita semua pernah membaca atau mendengar cerita tentang Tsa’labah. Sekedar untuk mengingatkan kembali, berikut cerita singkatnya.

Dikisahkan bahwa awalnya Tsa’labah adalah seorang yang sangat miskin. Saking miskinnya, ia hanya mempunyai satu buah sarung yang digunakan bersama istrinya untuk shalat. Tsa’labah selalu meminta agar dirinya menjadi kaya. Suatu saat dia meminta kepada Nabi SAW agar didoakan menjadi orang kaya. Nabi SAW tidak pernah mengabulkan permintaannya. Namun demikian Tsa’labah tidak pantang menyerah, terus meminta kepada Nabi SAW agar selalu didoakan dengan alasan agar dia dapat beribadah dengan lebih baik lagi (alias tidak lagi berebutan sarung dengan istrinya untuk melaksanakan shalat). Di samping itu, Tsa’labah pun berjanji bilamana ia telah kaya nantinya, ia akan melaksanakan seluruh perintah agama dengan kaffah (shalat dengan baik, bayar zakat & shadaqoh, dlsb).

Akhirnya Nabi SAW memberikan 2 ekor binatang ternak (kambing atau unta, penulis agak lupa, yang jelas binatang ternak) dan berkata (kurang Lebih)," Tsa’labah, peliharalah olehmu binatang ternak ini. Semoga darinya engkau akan mendapatkan rezeki yang berlimpah. Namun demikian, janganlah engkau melupakan janji yang telah engkau ungkapkan sebelumnya."

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, binatang ternak yang diberikan Nabi SAW menjadi berkembang biak dengan sangat banyaknya. Tsa’labah yang semula hanyalah seorang yang sangat miskin berubah menjadi "juragan" ternak yang sangat kaya karena jumlah ternaknya yang luar biasa banyaknya. Namun demikian, ternyata dengan semakin bertambahnya jumlah ternak yang dimilikinya, semakin jauh Tsa’labah dengan Allah SWT. Dahulu, di saat miskinnya, Tsa’labah dapat dipastikan selalu ikut shalat berjamaah di masjid bersama-sama Nabi SAW. Namun demikian dengan semakin bertambahnya jumlah ternak yang dimiliki, jangankan untuk shalat yang lima secara berjamaah, untuk shalat Jum’at pun dia tidak sempat.

Kemudian tibalah Ramadhan. Nabi SAW memerintahkan sahabat untuk meminta zakat binatang ternak dan zakat fitrah kepada Tsa’labah. Sahabat pun berangkat ke rumah Tsa’labah untuk melaksanakan tugas dari Nabi SAW tersebut. Apa yang didapat oleh sahabat di rumah Tsa’labah? Bukannya diterima dengan baik dan mendapatkan apa yang diperintahkan Nabi SAW kepada mereka, malah sahabat diusir sambil Tsa’labah berkata."Apa hak kalian untuk meminta sebagian dari ternakku? Kalian bukanlah siapa-siapa. Ternak ini kuusahakan sendiri tanpa bantuan dari kalian…." dst.

Lalu sahabat menyampaikan hal ini kepada Nabi SAW. Mendengar hal ini, Nabi SAW menyatakan,"Sungguh suatu kesialan bagi Tsa’labah". Tak lama kemudian, terdengar kabar bahwa binatang ternak milik Tsa’labah terserang penyakit yang mematikan. Belum lagi masalah ini teratasi, rumah megah Tsa’labah terbakar habis sehingga menyisakan arang. Akibat kejadian ini, diceritakan bahwa Tsa’labah dan istri shock dan akhirnya meninggal dunia.

Sungguh bukanlah suatu akhir yang kita harapkan… Naudzubillahi min dzalik

Cerita Tsa’labah di atas merupakan cermin diri manusia, termasuk penulis, pada umumnya. Ketika begitu banyak nikmat, terutama berupa harta yang melimpah ada di sisi kita, biasanya semakin mudah manusia itu melupakan Tuhannya. Tentunya hal ini merupakan peringatan bagi kita semua. Jangan sampai kita bertingkah laku seperti Tsa’labah.

Di bulan Ramadhan ini, dengan begitu banyak nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita, penulis mengingatkan diri penulis sendiri dan teman-teman sekalian untuk selalu, bahkan meningkatkan rasa syukur kita terhadap nikmat Allah SWT tersebut. Bukankah Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 yang artinya kurang lebih sebagai berikut:

"… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sungguh adzab-Ku sangat pedih."

Wallahu ‘alam






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham