My confession

October 1, 2007

Bersyukur (1)

Filed under: Opini

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah Dia berkata: "Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari kiamat itu akan datang. dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku Maka Sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisiNya." Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras. Dan apabila Kami memberikan nikmat kepada manusia, ia berpaling dan menjauhkan diri; tetapi apabila ia ditimpa malapetaka, Maka ia banyak berdoa.” (QS Al-Fushshilat : 49 – 51)

Cuplikan ayat dari surat Al-Fushshilat diatas menggambarkan sifat manusia, termasuk penulis, pada umumnya. Dimana kita selalu memohon kebaikan (emang ada yang memohon keburukan?) setiap saat, namun ternyata ketika kita mendapatkan kebaikan, yang terjadi adalah kita lupa untuk bersyukur bahkan seperti diungkapkan dalam ayat 50 surat tersebut di atas, kita sampai lupa diri seolah-olah kenikmatan tersebut adalah hak kita sepenuhnya.

Tentunya kita semua pernah membaca atau mendengar cerita tentang Tsa’labah. Sekedar untuk mengingatkan kembali, berikut cerita singkatnya.

Dikisahkan bahwa awalnya Tsa’labah adalah seorang yang sangat miskin. Saking miskinnya, ia hanya mempunyai satu buah sarung yang digunakan bersama istrinya untuk shalat. Tsa’labah selalu meminta agar dirinya menjadi kaya. Suatu saat dia meminta kepada Nabi SAW agar didoakan menjadi orang kaya. Nabi SAW tidak pernah mengabulkan permintaannya. Namun demikian Tsa’labah tidak pantang menyerah, terus meminta kepada Nabi SAW agar selalu didoakan dengan alasan agar dia dapat beribadah dengan lebih baik lagi (alias tidak lagi berebutan sarung dengan istrinya untuk melaksanakan shalat). Di samping itu, Tsa’labah pun berjanji bilamana ia telah kaya nantinya, ia akan melaksanakan seluruh perintah agama dengan kaffah (shalat dengan baik, bayar zakat & shadaqoh, dlsb).

Akhirnya Nabi SAW memberikan 2 ekor binatang ternak (kambing atau unta, penulis agak lupa, yang jelas binatang ternak) dan berkata (kurang Lebih)," Tsa’labah, peliharalah olehmu binatang ternak ini. Semoga darinya engkau akan mendapatkan rezeki yang berlimpah. Namun demikian, janganlah engkau melupakan janji yang telah engkau ungkapkan sebelumnya."

Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, binatang ternak yang diberikan Nabi SAW menjadi berkembang biak dengan sangat banyaknya. Tsa’labah yang semula hanyalah seorang yang sangat miskin berubah menjadi "juragan" ternak yang sangat kaya karena jumlah ternaknya yang luar biasa banyaknya. Namun demikian, ternyata dengan semakin bertambahnya jumlah ternak yang dimilikinya, semakin jauh Tsa’labah dengan Allah SWT. Dahulu, di saat miskinnya, Tsa’labah dapat dipastikan selalu ikut shalat berjamaah di masjid bersama-sama Nabi SAW. Namun demikian dengan semakin bertambahnya jumlah ternak yang dimiliki, jangankan untuk shalat yang lima secara berjamaah, untuk shalat Jum’at pun dia tidak sempat.

Kemudian tibalah Ramadhan. Nabi SAW memerintahkan sahabat untuk meminta zakat binatang ternak dan zakat fitrah kepada Tsa’labah. Sahabat pun berangkat ke rumah Tsa’labah untuk melaksanakan tugas dari Nabi SAW tersebut. Apa yang didapat oleh sahabat di rumah Tsa’labah? Bukannya diterima dengan baik dan mendapatkan apa yang diperintahkan Nabi SAW kepada mereka, malah sahabat diusir sambil Tsa’labah berkata."Apa hak kalian untuk meminta sebagian dari ternakku? Kalian bukanlah siapa-siapa. Ternak ini kuusahakan sendiri tanpa bantuan dari kalian…." dst.

Lalu sahabat menyampaikan hal ini kepada Nabi SAW. Mendengar hal ini, Nabi SAW menyatakan,"Sungguh suatu kesialan bagi Tsa’labah". Tak lama kemudian, terdengar kabar bahwa binatang ternak milik Tsa’labah terserang penyakit yang mematikan. Belum lagi masalah ini teratasi, rumah megah Tsa’labah terbakar habis sehingga menyisakan arang. Akibat kejadian ini, diceritakan bahwa Tsa’labah dan istri shock dan akhirnya meninggal dunia.

Sungguh bukanlah suatu akhir yang kita harapkan… Naudzubillahi min dzalik

Cerita Tsa’labah di atas merupakan cermin diri manusia, termasuk penulis, pada umumnya. Ketika begitu banyak nikmat, terutama berupa harta yang melimpah ada di sisi kita, biasanya semakin mudah manusia itu melupakan Tuhannya. Tentunya hal ini merupakan peringatan bagi kita semua. Jangan sampai kita bertingkah laku seperti Tsa’labah.

Di bulan Ramadhan ini, dengan begitu banyak nikmat yang telah diberikan Allah SWT kepada kita, penulis mengingatkan diri penulis sendiri dan teman-teman sekalian untuk selalu, bahkan meningkatkan rasa syukur kita terhadap nikmat Allah SWT tersebut. Bukankah Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 7 yang artinya kurang lebih sebagai berikut:

"… Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sungguh adzab-Ku sangat pedih."

Wallahu ‘alam

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://personalization.blogsome.com/2007/10/01/bersyukur/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham