Musang & Ayam
Dalam No Fear, salah satu tulisan Kafi Kurnia di biangpenasaran.blogspot.com menyampaikan sebuah cerita tentang seekor musang yang sedang mengejar seekor ayam yang diceritakan oleh Louis Moreno dalam suatu kesempatan sewaktu pertemuan para ahli pemasaran komoditi pertanian di Portland. Berikut adalah kisah lengkapnya…
Alkisah seekor musang sedang mengejar seekor ayam. Tentu saja sang ayam lari terbirit-birit saking takutnya. Dalam kejar-kejaran yang serba seru itu, akhirnya ayam minta perlindungan kepada sapi. Maka ayampun berlindung dibawah sapi. Malang nasib sang ayam, saat bersembunyi seluruh badannya akhirnya kena ditutupi oleh kotoran sapi. Apa boleh buat, biarpun nasibnya jelek banget, ayam terpaksa bersembunyi dengan berselimut kotoran sapi. Yang penting aman. Tak lama kemudian, musang yang penciumannya sangat tajam, akhirnya bisa mengikuti jejak sang ayam dan mendekati sang sapi. Tapi sang ayam tidak kelihatan batang hidungnya. Sementara itu sang ayam sudah mengigil ketakutan.
Karena sang musang tidak mau pergi, akhirnya sang ayam tidak sabar, dan melakukan kesalahan. Sang ayam membuat suara orang mengusir : ‘hussss……hussss….hussssss’ Suara itu mengusik sang musang, setelah diperhatikan betul, akhirnya sang musang tahu bahwa sang ayam bersembunyi dibawah tumpukan kotoran sapi. Akhirnya musang menarik sang ayam dari tempat persembunyiannya. Dan berakhirlah hidup sang ayam tadi.
Sekilas, cerita ini memang hanya seperti cerita anak-anak yang biasa kita ceritakan pada anak-anak kita menjelang saat tidurnya. Namun demikian, ternyata seorang Louis Moreno menyampaikan bahwa cerita ini, selalu menjadi modalnya dalam menghadapi setiap kesulitan hidup yang datang menerpa kehidupan-nya. Karena dalam dongeng itu tersembunyi 3 strategi hidup yang sering dimanfaatkan Louis. Strategi pertama, sangat sulit untuk mendapatkan pertolongan yang sesungguhnya. Louis mengalami, seringkali orang yang menolong anda, tidak sepenuh hati dan dengan tulusnya menolong anda. Seperti perlakuan sang sapi terhadap sang ayam. Biarpun begitu, menurut Louis, ada baiknya anda memanfaatkan setiap pertolongan, kesempatan, dan celah yang ada. Biarpun nasib anda harus seperti ayam yang bersembunyi dibalik kotoran sapi. Yang penting selamat ! Begitu tutur Louis.
Yang kedua, kalau anda sedang susah, menderita, bermandi lumpur dan kotoran, sebaiknya anda low profile saja. Jangan berisik dan ribut-ribut. Karena akan membuat anda menjadi fokus perhatian. Anda mudah menjadi target bagi musuh anda. Dan yang ketiga atau yang terakhir, siapapun yang memberikan uluran tangan, dan menawarkan pertolongan, seperti sang musang yang menarik sang ayam dari kubangan kotoran, seringkali bukanlah juru selamat yang sesungguhnya. Hidup mesti hati-hati, begitu pesan Louis.
Dari penuturan Louis Moreno tersebut yang di-share oleh Kafi Kurnia di atas, terdapat beberapa hal yang perlu mendapatkan pencermatan lebih lanjut.
Pertama, memang benar bahwa sangat sulit untuk mendapatkan pertolongan yang sesungguhnya karena seperti yang anda rasakan dan ketahui bersama bahwa tanpa anda sadari, kita justru menikmati dan menghargai yang negatif saja. Akibatnya kita lebih senang bilamana orang susah dan sebaliknya susah bilamana orang lain itu senang. Akibatnya, ketika anda (harus) menolong orang lain, kadang prinsip ekonomi (seberapa besar keuntungan yang akan didapatkan di kemudian hari) yang pertama kali terlintas dalam pikiran anda.
Kedua, memang benar bahwa bilamana anda sedang susah, menderita, bermandi lumpur dan kotoran, sebaiknya anda low profile saja. Dengan bersikap low profile, lawan/musuh anda tidak akan mudah mengetahui sisi lemah diri anda, apa yang terjadi pada anda. Ketika masalah mendera dan ternyata anda terlalu menumpahkan perasaan/permasalahan itu kepada setiap orang yang ada, maka hal itu sama saja dengan membuat lubang perangkap bagi diri anda sendiri. Bukankah banyak orang yang senang bilamana orang susah dan sebaliknya susah bilamana orang lain itu senang…
Akibatnya ketika orang mengetahui bahwa diri anda berada dalam masalah, maka seperti yang diuraikan oleh Louis Moreno, bahwa siapapun yang memberikan uluran tangan, dan menawarkan pertolongan, seringkali bukanlah juru selamat yang sesungguhnya. Artinya kadang yang ditawarkannya malah merupakan suatu awal dari bencana/masalah baru bagi anda.
Keempat, dari ketiga hal di atas, pelajaran yang dapat diambil sebagai umat yang beragama adalah bahwa memang hanya kepada Allah-lah semestinya kita semua meminta pertolongan, sebagaimana sering kali diucapkan minimal 17 kali sehari bagi teman-teman muslim (QS Al-Fatihah: 5), dan juga tentunya diajarkan dalam agama lainnya. Karena sesungguhnyalah Dia yang menciptakan kita, Dia-lah yang berkuasa atas diri kita, dan Dia-lah yang akan menolong kita dengan tanpa pamrih.
Hanya saja memang mengucapkan itu terasa lebih mudah daripada mengaplikasikannya. Semoga tulisan ini dapat menjadi bahan perenungan sekaligus media pengingatan bagi diri penulis sendiri maupun pembaca sekalian.
Amin…
