Tebang Pilih, Cuci Piring, Cuci Tangan
Ketiga idiom di atas menjadi sangat populer beberapa waktu ini. Istilah "tebang pilih" mulai terdengar ketika mantan Presiden Megawati mengatakan bahwa proses pemberantasan korupsi pada masa pemerintahan Presiden SBY lebih pada tebang pilih, terbukti bahwa ternyata dari sekian banyak pejabat yang dibidik oleh KPK adalah mantan-mantan pejabat era kepemimpinan Megawati (tentunya tidak termasuk SBY & JK yang kebetulan waktu itu juga menjabat….). Dan ternyata memang semakin jelas ketika ternyata kasus aliran dana DKP dihentikan oleh KPK dengan alasan kurangnya bukti, padahal mantan Menteri Rokhmin Dahuri dijebloskan ke penjara dengan tuduhan korupsi hanya berdasarkan catatan Sekjen DKP waktu itu. Dan celakanya lagi Rokhmin Dahuri harus masuk ke penjara dalam jangka waktu yang lebih lama daripada Sekjennya.
Selanjutnya, karena gerah dengan pernyataan lawan-lawan politiknya tersebut, bersamaan dengan peresmian Gedung PPATK pada 27 Nopember 2007, Presiden menyatakan bahwa yang dilakukan saat ini adalah cuci piring (entah piringnya siapa yang dicuci) karena pada era yang lalu dimana banyak pihak yang "berpesta pora" meninggalkan "piring-piring kotor" yang berserakan dan kebanyakan pihak hanya cuci tangan saja. Oleh karena itu, beliau berpesan agar pihak-pihak yang merasa "piringnya" dicuci jangan mengganggu proses cuci piring tersebut.
Dalam kaitannya dengan pernyataan Presiden ini, pakar komunikasi politik UI, Effendy Ghazali, mengatakan bahwa apa yang dikatakan Presiden dapat dikatakan sebuah blunder, karena semestinya presiden menyadari bahwa langsung maupun tidak langsung, presiden yang berkuasa saat ini adalah termasuk dalam orang-orang yang berpesta pora itu, dari semenjak masa pemerintahan Presiden Soeharto sampai dengan masa pemerintahan Presiden Megawati. Oleh karena itu, sangatlah lucu dan tidak bijaksana bilamana yang bersangkutan menyatakan hal ini. Pertanyaan yang muncul selanjutnya adalah (dalam bahasa gaulnya), "Emangnya selama ini ada dimana?"
Entah mengapa hal ini harus diungkapkan oleh presiden saat ini, ketika saat-saat menjelan Pemilu sudah mendekat. Mengapa Mr. President, tidak mengurangi kata-katanya (yang mungkin dimaksudkan untuk menjaga citranya) dengan lebih banyak bertindak untuk memperbaiki keadaan yang ada saat ini?Bukankah masih sangat banyak permasalahan lain yang lebih penting untuk diselesaikan (misalnya permasalahan Adelin Lies, permasalahan lumpur Sidoarjo, tingkat pengangguran yang tinggi, penyiapan Indonesia dalam menghadapi pasar bebas ASEAN, dlsb), ketimbang hanya membuat suasana menjadi "panas" dan tidak kondusif. Bukankah daripada hanya berupaya menjaga citra melalui omongan yang mungkin dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri, akan lebih baik bila menjaga citra dengan memberikan karya nyata.
Tapi mungkin memang inilah salah satu tipe pemimpin yang lebih mengutamakan perasaan daripada rasio dalam mengambil keputusan, di samping prinsip kehati-hatian yang mengakibatkan "sudah lambat tapi tetap tidak selamat" yang dianut selama ini. Wallahu ‘alam….
Akhirnya, seperti telah dikemukakan dalam posting terdahulu, nasi sudah menjadi bubur. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita bisa "nrima" menikmati bubur yang telah kita ramu bersama dalam pilpres 2004 yang lalu. Semoga saja kesalahan ini tidak akan terulang kembali dalam pilpres 2009 mendatang.






