Sudah Lambat, Tidak Selamat

Judul di atas disadur dari Opini Gus Salahudin Wahid di Harian Kompas pada 07 November 2007 yang lalu. Cukup dengan membaca judul, tanpa harus membaca dengan seksama, sudah dapat dipastikan bahwa opini ini ditujukan untuk mengkritisi kepemimpinan presiden SBY.
Dalam alinea pertama, Gus Salahudin Wahid mengungkapkan bahwa pengambilan keputusan adalah tugas utama pemimpin organisasi sekecil apa pun. Apalagi pemimpin pemerintahan negara sebesar Indonesia. Pengambilan keputusan harus dilakukan dengan cepat dan tepat. Tepat tetapi lambat, keefektifannya berkurang. Cepat tetapi tidak tepat, berdampak negatif.
Nah jelas sekali klo ini menggambarkan wajah pemimpin Indonesia saat ini yang oleh banyak orang digambarkan sebagai peragu, tidak tegas, dan tidak berani mengambil resiko. Alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang (kebetulan) menjadi stafnya mengatakan bahwa presiden kita adalah orang yang berhati-hati dalam memutuskan sesuatu. Tetapi sekali lagi, mengutip opini Gus Salahudin Wahid (dan penulis setuju 200%) bahwa berhati-hati itu baik, namun terlalu berhati-hati tentu bukanlah hal yang baik lagi.
Memang ada pepatah yang mengatakan "biar lambat asal selamat", namun dalam hal ini tentunya perlu diperhatikan siapa yang selamat. Seorang pemimpin seharusnya lebih mengutamakan kepentingan yang lebih besar (dalam hal ini orang-orang yang dipimpinnya) dan bukan hanya kepentingan pribadi semata.
Sebagai seorang pemimpin tidak seharusnyalah menggunakan pepatah ini, sebab mungkin saja yang bersangkutan akan selamat, namun tidak demikian halnya dengan orang-orang yang dipimpinnya. Bukankah seorang pemimpin seharusnya berada di depan untuk memimpin dan melindungi semua yang dipimpinnya? Dan bukankah seorang pemimpin itu dipilih karena hal tersebut di atas?
Tentunya kejadian yang dialami bangsa ini pada periode (kepemimpinan) ini tidak lepas dari kesalahan bangsa ini sendiri dalam memilih pemimpinnya dalam pilpres yang lalu. But, nasi sudah menjadi bubur, yang harus dilakukan saat ini adalah bagaimana supaya bubur tersebut dapat dinikmati senikmat kita menikmati nasi dan berusaha jangan sampai kita semua ternyata lebih bodoh dari gajah (bukankah gajah tidak mungkin terperosok dalam lubang yang sama untuk kedua kalinya?). Amin…

setuju..bukan saatnya lagi kita bersikap TERLALU BERHATI-HATI..keburu disamber kucing nanti…hehe. Ya intinya sudah saatnya kita mengambil keputusan cepat, tepat, tegas dan optimis…apalagi sekelas presiden gt loh…Kita sebagai seorang pribadi aja, yang merupakan pemimpin bagi diri sendiri dituntut utk slalu berpikir kritis dan bertindak tepat, apalagi presiden yg jg tdk hanya memikirkan diri sendiri tetapi jg rakyatnya yang berjumlah lebih dari 200 juta penduduk. Bukan hal yang gampang memang, tetapi dengan pengalaman, keyakinan, selalu mengharap yang terbaik kpdNya dan yakin Allah akan mengabulkan doa-doa kita Insya Allah semua akan tercapai dengan baik…
Comment by dewi — November 8, 2007 @ 6:16 am
yang penting cepat tapi selamat…tapi itu sulit yao?
Pada prinsipnya kepemimpinan orang Jawa dengan filsafatnya alon2 waton kelakon (Baca : alon2 waton suwe )sering dipakai oleh para pemimpin dinegeri ini… Topik diatas mengingatkan saya pada filsuf yang diplesetkan Bersakit2 dahulu matilah kemudian, apakah bangsa ini telah sakit oleh pemimpin yang tidak pandai berenang sehingga sakit dan kemudian mati?.
Mentalitas orang jawa yang kurang baik(nrimo ing pandum, kurang wawasan kedepan, kurang berani mengambil keputusan dengan penuh pertimbangan +-nya etc), khususnya mereka yang menduduki jabatan penting perlu dirubah, bagaimana caranya?
Belajar pada Orang batak (bangsa asli tanah air kita) ....kuncinya berani …..berani mengambil keputusan ….entah apa resikonya dibelakang hari…. matur tq
Comment by hariman — November 8, 2007 @ 6:42 am
emangnya gua pikirin, cepat atau lambat yang penting saya selamat dunia akherat, sikap pandito durno yang selalu mendua perlu kita tiru demi keselamatan kita ….gitu llhhooo.
Comment by Abdul Rosyid — November 8, 2007 @ 6:55 am