My confession

November 13, 2007

Leadership

Filed under: Opini

Rasa kagol, kesal, kecewa atau apa pun namanya (klo boleh dikatakan demikian) kepada kepemimpinan seorang SBY kembali tercuat melalui artikel yang ditulis oleh Harry Tjahjono dengan judul "Rinduku Padamu, Presiden" di harian Kompas, 13 Nopember 2007.

Sebenarnya tanpa harus membaca dengan seksama pun terlihat sekali betapa seorang Harry Tjahjono sangat kesal (atau mungkin kecewa) dengan kepemimpinan SBY sebagai Presiden Republik ini. Di awal artikelnya, Harry Tjahjono menyatakan bahwa "… Secara sederhana, dari aspek landasan dan orientasi kepemimpinan, ada dua jenis pemimpin, yakni pemimpin yang landasan dan orientasi kerjanya lebih pada perasaan serta yang landasan dan orientasi kerjanya lebih pada rasio…"

Selanjutnya dalam bagian-bagian lain artikel tersebut, dikatakan bagaimana seorang SBY cenderung menjadi seorang pemimpin rasa, dimana (pe) rasa (an) lebih mendominasi dibandingkan dengan rasio dalam hal pengambilan keputusan apa pun, baik itu keputusan yang sebenarnya sangat mudah bagi seorang presiden (karena memang yang bersangkutan mempunyai hak dan/atau kewajiban untuk memutuskan hal tersebut) maupun keputusan yang sangat sulit (karena menyangkut hajat hidup orang banyak).

Contoh konkret yang diberikan oleh Harry Tjahjono adalah dalam peristiwa reshuffle kabinet yang memakan waktu yang sangat lama (hal ini diakui oleh salah seorang mantan menteri, Syaifullah Yusuf), padahal hal itu sebenarnya merupakan hal yang mudah bagi seorang presiden. Belum lagi masalah-masalah lain, seperti yang diungkapkan oleh Salahudin Wahid dalam artikel sebelumnya di harian yang sama dengan judul "Sudah Lambat, Tidak Selamat" yang berkaitan dengan penyelesaian lumpur Lapindo.

Pada saat ini, Indonesia tentunya tidak memerlukan seorang pemimpin rasa. Mengapa? Karena jelas kondisi yang dihadapi Indonesia saat ini bukanlah kondisi yang tepat untuk itu. dibutuhkan seorang pemimpin rasio yang lebih mengutamakan kerja nyata dibandingkan dengan pemimpin rasa yang lebih mengutamakan pencitraan diri. Bagaimana pun, kerja nyata itu pastinya lebih penting daripada pencitraan diri.

Dalam hal ini, penulis tidak menafikan perlunya pencitraan diri alias "jaim" alias jaga image tersebut, namun dengan bekerja keras tentunya image yang ingin dicitrakan (seperti pemimpin yang berhasil guna dan berdaya guna) akan lebih mudah tercapai. Dan sebaliknya semakin kita terlalu "jaim" justru image buruklah yang lebih senang mendekati kita.

Sebagai catatan akhir, seperti yang pernah penulis sampaikan dalam beberapa opinin yang lalu bahwa nasi sudah menjadi bubur. Saat ini yang perlu kita lakukan adalah nikmatilah bubur itu dengan sebaik-baiknya, tambahkan apa pun yang bisa membuatnya lebih nikmat lagi. Dan tentunya sebagai manusia normal, tentunya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di masa yang akan datang…

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://personalization.blogsome.com/2007/11/13/29/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham