Sukses

Setiap orang pastinya ingin sukses. Siapa pun dia, dimana pun dia berada, dan dengan profesi apa pun pastinya mendambakan kesuksesan. Ada yang berpendapat bahwa seseorang itu sukses bilamana seseorang mempunyai harta yang melimpah, kedudukan yang cukup (atau bahkan sampai dengan tertinggi) dalam pekerjaan, keluarga yang harmonis, dan anak-anak yang tampan, cantik dan pintar-pintar. Tentunya dalam hal ini penulis tidak akan mempermasalahkan definisi sukses setiap orang, karena tentunya definisi sukses akan berbeda antara satu maupun orang yang lain.
Dalam suatu acara yang bertajuk "Live Excellence" di Trijaya FM pada Kamis, 15 Nopember 2007 dengan judul Menuju Sukses Jangka Panjang dikemukakan bahwa secara matematis, sukses merupakan hasil perkalian dari valensi, "to be", dan "to have". Karena merupakan hasil perkalian, maka dalam upaya mencapai kesuksesan salah satu dari ketiga faktor di atas tidak boleh sama dengan nol. Namun demikian, perlu juga dipahami bahwa ketiga faktor tersebut hendaklah dikelola dengan baik sehingga tidak ada faktor yang lebih besar daripada faktor yang lain.
Apakah yang dimaksud dengan valensi? Menurut pendapat pemrasaran, valensi adalah nama lain dari core competencies atau kemampuan dasar yang dimiliki oleh seseorang, baik yang bersifat knowledge atau pengetahuan, skill atau keterampilan, dan attitude atau sikap. Dalam kaitannya dengan pengertian kompetensi ini, sebagaimana dalam blog terdahulu mengenai kaffah, dalam core competencies, semua faktor yang ada di dalamnya dapat berubah, tergantung dari lingkungan tempat seseorang itu berada. Seseorang yang berada di tempat yang memungkinkan pengetahuannya bertambah, maka faktor knowledge yang terdapat dalam core competencies-nya akan meningkat, demikian pula dengan hal lainnya.
Selanjutnya "to be" dapat diartikan sebagai cita-cita ataupun visi seseorang. "To be" inilah yang kemudian menjadi faktor penggerak utama dalam pencapaian sukses. Sedangkan "to have" dapat diartikan sebagai keinginan seseorang. Kedua faktor inilah ("to be" dan "to have") yang kemudian akan menggerakkan seseorang dalam pencapaian cita-citanya. Bilamana kedua hal ini lebih kecil dari pada core competencies yang dimiliki seseorang, maka yang akan terjadi adalah seperti yang terjadi dalam birokrasi pemerintahan negara RI, dimana berlaku idiom PGPS alias "pintar guoblok padha saja".
Sedangkan bilamana Kedua faktor ("to be" dan "to have") tersebut lebih besar daripada core competencies yang dimiliki, maka yang akan terjadi adalah seperti katak/kodok yang mencari mangsa, yaitu injak bawahan, jilat atasan dan tidak memperhatikan lingkungan sekitar. Atau dengan kata lain menghalalkan segala cara dalam kaitannya untuk mencapai tujuannya.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka jelas bahwa ketiga faktor tersebut haruslah dikelola dengan baik sehingga tidak ada faktor yang lebih besar daripada faktor yang lain. Keseimbangan adalah penting, dimana pun dan dalam keadaan apa pun, keseimbangan adalah yang utama.
Akhirnya semoga opini ini dapat mencerahkan kita semua dalam menggapai sukses. Amin
