Buntu

… Aku mau presiden baru bela rakyat/yang punya ketegasan dalam memimpin/rakyat semakin susah/rakyat hilang harapan/karena salah pilih/pemilu nanti aku mau presiden baru bela rakyat/yang bodoh berjanji pandai bekerja/rakyat semakin susah/rakyat hilang harapan/jangan tebar pesona/rakyat tak butuh… (Frangky Sahilatua)
Petikan lirik di atas disadur dari artikel Sukardi Rinakit yang berjudul Jalan Buntu di Harian Kompas, 20 Nopember 2007. Bagian awal artikel tersebut lebih menunjukkan perasaan Sukardi Rinakit dan mungkin juga sebagian besar warga negara di negara tercinta ini terhadap kepemimpinan yang ada pada saat ini.
Bilamana kita melihat ke belakang, pada tahun 2005 (tepatnya 28 Januari 2005), sebenarnya Sukardi Rinakit pun telah menuliskan kekecewaannya pada pemerintahan yang ada yang bertepatan dengan 100 hari kepemimpinan melalui artikel di Harian Kompas dengan judul SBY dan Politik "Gusti Ora Sare". Di akhir artikel ini, dengan jelas Sukardi Rinakit menyatakan bahwa "…kearifan prinsip "Gusti ora sare" harus diterjemahkan dalam tindakan politik yang bisa disejajarkan dengan ilustrasi: Kalau saya seorang jenderal, bergelar doktor, umur 50 tahun lebih, anak-anak sudah mandiri, dan sekarang menjadi presiden, tidak ada lagi yang saya takuti kecuali rakyat dan Tuhan."
Maksudnya adalah jelas dan tegas bahwa sebagai presiden yang dipilih secara demokratis oleh kurang lebih 60% rakyat Indonesia melalui Pilpres (yang katanya sangat demokratis), tidak seharusnya dalam memerintah, Mr. President menjadi orang yang peragu, terlalu berhati-hati dan terlihat terlalu memperhitungkan dukungan politik dari legislatif. Menjadi hal yang terlihat banci dan aneh, ketika menurut UUD 1945 (hasil referendum), pemerintahan negara ini bersifat presidensial, namun ternyata dalam kenyataannya kadang lebih cenderung parlementer, dimana kata presidensial tidak diucapkan sebagai satu kata melainkan menjadi dua kata yaitu "presiden" dan "sial".
Berkenaan dengan artikel pada tanggal 22 Nopember tersebut, terlihat banyak anomali yang perlu dipertanyakan terhadap Mr. President ini. Sebagai orang Jawa yang tentunya pernah mendapat pesan dari orang tua, "Aja turu sore kaki, ana dewa nganglang jagad… (Jangan tidur sore-sore Nak, ada dewa keliling bumi)" tentunya dan sebagaimana sering diungkapkan bahwa Presiden kurang tidur dalam tiga tahun terakhir (Kompas, 14/11). Jangan-jangan memang tidak ada korelasi positif antara lama tidur Presiden dan efektivitas kebijakan. Atau malah, mungkin Mr. President tidak tidur sore-sore untuk mencari ide untuk menciptakan lagu yang semoga saja bisa dapat platinum award….
Sungguh suatu ironi dan tragedi terutama bagi pemilih dan pendukung utamanya, karena ternyata dalam masa kepemimpinannya, yang berhasil dicapai hanyalah sebuah album kompilasi karya cipta yang dibawakan oleh sekian banyak penyanyi top Indonesia, dan bukannya hasil nyata dari janji-janji yang telah diungkapkan dalam masa kampanye pilpres terdahulu.
Namun demikian, ini tentunya pun tidak lepas dari pengaruh acara-acara lomba di TV yang cenderung menjual kesedihan untuk selanjutnya mengharuskan pendukung utama mengirimkan SMS sebanyak-banyaknya agar empunya cerita sedih tersebut mendapatkan SMS terbanyak dan menjadi pemenang. Jadi pemenang bukanlah orang yang benar-benar berbakat, tapi hanya dengan kemampuan sekedarnya saja dan kemampuan orang-orang yang ada di belakangnya untuk mengemas cerita sedih di belakangnya sehingga banyak orang bersimpati dan jatuh cinta untuk segera memilihnya menjadi pemenang melalui SMS.
Semoga saja, sekali lagi semoga saja, kejadian ini tidak akan berulang dalam pilpres mendatang. Kita benar-benar akan memilih presiden yang baru, yang tegas dalam memimpin, bodoh berjanji namun pandai bekerja seperti syair Frangky Sahilatua di atas. Amin.
