My confession

November 25, 2007

Quick Count

Filed under: Opini

Quick count adalah perhitungan secara cepat hasil pemilihan umum ( atau pemilihan kepala daerah) dengan menggunakan TPS ( Tempat Pemungutan Suara ) sampel. Dengan quick count, hasil perhitungan suara bisa diketahui dua sampai tiga jam setelah perhitungan suara di TPS ditutup. Kecepatan ini bisa didapat karena dalam quick count kita tidak menghitung suara dari semua TPS, cukup dengan sampel TPS saja. Inilah salah satu sumbangan penting dunia ilmu pengetahuan, terutama statistik dalam politik. Jika penarikan sampel dilakukan dengan benar, prosedur pencatatan dilakukan dengan tepat, meski hanya memakai sampel TPS, hasil quick count akan sama dengan hasil Pemilu / Pilkada.

Quick count semula dipakai untuk mengatasi kelemahan perhitungan suara yang berlangsung lama. Padahal kecepatan dan kepastian hasil siapa yang menang dalam Pemilu atau Pilkada penting diketahui secepat mungkin oleh publik. KPU / KPUD barangkali akan mengumumkan hasil Pemilu / Pilkada beberapa hari atau bahkan beberapa minggu kemudian. Selama proses itu, tensi politik akan terus tinggi. Quick count berguna untuk mendinginkan tensi politik itu agar publik bisa mulai kehidupan sehari-hari kembali. Hasil quick count tentulah akan punya dampak politik besar. Politisi, kandidat, media hingga masyarakat umum akan menunggu hasil quick count. Karena itu, quick count harus dilakukan dengan benar. Jika quick count dilakukan secara salah, dengan metodologi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan, quick count justru bisa menimbulkan ”masalah” baru. Hasil quick count bisa jadi akan menjadi kontroversi yang tidak berkesudahan siapa pemenang Pemilu / Pilkada.

Dalam Rubrik Politik dan Hukum Harian Kompas yang terbit pada 21 Nopember 2007, terdapat artikel dengan judul Hasil "Quick Count" Diusulkan Ditahan, karena diyakini berpotensi mempengaruhi pilihan rakyat dan juga berisiko memancing konflik. Dari judul dan pemahaman penulis mengenai artikel di Harian Kompas tersebut dan dengan mengacu pada beberapa sumber yang pernah dibaca, kekhawatiran sebagian orang terhadap hasil quick count yang beresiko memancing konflik ada benarnya. Contoh terkini adalah hasil Pilkada Maluku Utara, dimana dua pendukung pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur sudah saling berhadapan dan menyampaikan kepada masyarakat (pendukung masing-masing Cagub dan Cawagub) bahwa berdasarkan quick count yang dilakukan oleh lembaga tertentu, pasangan tersebut memenangkan pilkada tersebut. Sedangkan di satu sisi, ternyata berdasarkan pengumuman dari lembaga resmi (KPUD ataupun KPU) ternyata berbeda jauh.

Selanjutnya dalam kaitannya dengan mempengaruhi pilihan rakyat, kemungkinan besar hal ini tidak terjadi. Sesuatu yang (mungkin) mempengaruhi pilihan rakyat adalah hasil survey dari lembaga yang juga biasanya mengadakan quick count. Hal ini secara kentara maupun tidak telah terbukti dalam pilpres 2004, dimana melalui suatu stasiun televisi tertentu, terlihat bahwa setiap hari masyarakat selalu disuguhi berita mengenai salah satu calon presiden yang tingkat popularitasnya melebihi tingkat popularitas calon lainnya, bahkan sampai dengan h-7 pilpres dilaksanakan.

Dalam masyarakat yang belum dewasa (dalam berdemokrasi), tentunya hal ini akan (sangat) mempengaruhi pilihan mereka sebelum mereka masuk ke dalam bilik pemilihan. Apalagi ternyata ketidakdewasaan rakyat juga didukung oleh infrastruktur partai yang mereka pilih yang juga tidak dewasa atau malah kadang bersikap "banci".

Selanjutnya menurut pendapat pribadi penulis memang seharusnya hasil quick count ditahan dan tidak segera dikeluarkan sampai dengan pemilihan itu selesai. Kalaupun akan dikeluarkan sebaiknya bukan untuk konsumsi masyarakat secara umum, karena cenderung akan menimbulkan konflik horizontal antar masyarakat. Selanjutnya, mungkin pula dalam hubungannya dengan survey mengenai calon (apa pun itu), sebaiknya hanya untuk kalangan terbatas saja (terutama partai pendukung saja) karena terbukti dalam pilpres 2004 yang lalu, (mungkin) survey telah mempengaruhi banyak orang untuk memilih pemimpin yang salah, sehingga seperti telah disampaikan dalam posting sebelumnya, seorang Frangky Sahilatua membuat syair yang isinya keinginan untuk memiliki presiden yang baru…

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://personalization.blogsome.com/2007/11/25/quick-count/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham