My confession

December 12, 2007

Teladan

Filed under: Opini

Budiarto Shambazy dalam opininya di Harian Kompas, 11 Desember 2007 menyampaikan bahwa bangsa ini sedang menderita penyakit sistemik": sistemnya tak keliru, manusianya yang amburadul.

Jadi "penyakit sistemik" itulah yang mengakibatkan keambrukan di berbagai bidang kehidupan. Strukturnya benar, kulturnya salah.

Seperti kata pepatah, "Suara penyanyinya yang sumbang, bukan lagunya yang jelek". Meminjam kiasan politik yang populer di Amerika Serikat, "It’s the mentality, stupid!"

Penyakit sistemik mewabah karena bangsa kehilangan daya saing. Daya saing menurun karena bangsa ini tidak patuh pada aturan alam, aturan hukum, sampai ke aturan main.

KPK benar, tetapi pimpinannya payah. Partai pilar demokrasi, tetapi DPR-nya busuk.

Kemacetan terjadi bukan karena jalan kurang panjang atau jumlah mobil kebanyakan, tetapi pengendara enggak tahu aturan. Moral turun bukan karena gaya hidup konsumerisme, tetapi karena pemimpin gagal jadi teladan.

Selanjutnya Budiarto Shambazy memberikan solusi berkenaan hal ini yaitu bahwa bangsa ini perlu terapi kejut.

Kaisar Meiji melakukan pembaruan melalui restorasinya. Mao Zedong melancarkan revolusi kebudayaan untuk membuang apel-apel busuk dari keranjang.

Mikhail Gorbachev mencanangkan glasnost dan perestroika untuk merubuhkan Tirai Besi. Mahathir Mohamad mengampanyekan "Malaysia Boleh" untuk memajukan puaknya.

Tugas pemimpin berbuat, bukan malah bertanya. 

Dari opini tersebut di atas, pada dasarnya ada dua hal yang patut digarisbawahi yaitu bahwa bangsa ini (1) telah kehilangan keteladanan dari para pemimpinnya, dan (2) tugas pemimpin adalah berbuat dan bukan malah bertanya.

Keteladanan itu terkait bahwa ternyata pemimpin yang dipilih oleh lebih dari 60% warga negara Indonesia tenyata dalam pelaksanaan kepemimpinannya lebih banyak bertanya atau bahkan cenderung untuk menjaga image daripada melakukan tindakan nyata. Tanpa adanya tindakan nyata dari pemimpin, tentunya semua janji yang diungkapkan pada saat kampanye pilpres yang lalu akan dianggap sebagai janji-janji kosong. Benarlah kiranya ungkapan "Memang lidah tak bertulang". Begitu mudah janji diungkapkan untuk selanjutnya diingkari.

Semoga saja hal ini tidak akan terjadi dalam pilpres mendatang. Sebab bilamana hal ini terjadi, apalah gunanya pilpres dilakukan….

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://personalization.blogsome.com/2007/12/12/teladan/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham