My confession

December 13, 2007

Fighting Spirit

Filed under: Opini

Kafi Kurnia dalam Intrik yang disiarkan oleh Trijaya FM pada hari Rabu 12 Desember 2007 menceritakan bagaimana seorang Rudy Hartono yang pada tahun 1975 kalah dari Svend Pri di final All England dan mampu bangkit kembali di tahun 1976 dengan semangat yang luar biasa. Itu tercermin dalam pertandingan semi final dengan Fleming Delfs. Di set pertama Rudy Hartono mengalahkan Fleming Delfs dengan 15-10. Tetapi sepatu baru Rudy Hartono rupanya membuat masalah di set kedua. Sehingga berbalik Rudy kalah 7-15 di set itu. Tetap bersemangat luar biasa di set ketiga, Rudy sudah sempat ketinggalan 2-9. Namun dalam sebuah demonstrasi mental baja dan semanggat membara, Rudy memperlihatkan sebuah keteguhan perjuangan yang sangat luar biasa. Point demi point di raih Rudy. Hingga akhirnya tiba di detik mendebarkan 9-13. Rudy di jurang kekalahan. Tapi Rudy tetap mengusung semangat didepan. Rudy berhasil akhirnya menyamakan skore 13-13. Dalam perpanjangan 5 angka, dengan semangat yang tidak bisa diungkapan, Rudy akhirnya memenangkan pertandingan itu 18-13. Di final, Rudy mengalahkan Lim Swie King dan akhirnya menjadi juara 8 kali All England. Saat itu seluruh negeri lompat, bersorak, dan joged bersama.

Cerita tentang Rudy Hartono tersebut tentunya bukan hanya sebuah cerita saja, apalagi di saat bangsa ini tengah terengah-engah untuk mempertahankan dirinya sebagai bangsa yang pernah "besar" dalam segala bidang.

Entah mengapa, bila diperhatikan bersama semenjak reformasi yang digelorakan hampir 10 tahun yang lalu, bangsa ini bukannya semakin baik keadaannya, tetapi cenderung semakin buruk. Lihat saja bagaimana bangsa ini tidak pernah lagi mencapai juara umum atau minimal 2 besar dalam pesta olahraga antarbangsa Asia Tenggara (Sea Games), atau bagaimana banyaknya budaya bangsa yang diklaim sepihak oleh negara tetangga dan serumpun kita, Malaysia atau bagaimana satu persatu daerah kita lepas (dimulai dari lepasnya Timor-Timur, kemudian yang terkini adalah lepasnya P. Sipadan dan P. Likitan).

Menjadi suatu pertanyaan penting bagi kita semua, masihkah bangsa ini memiliki semangat seperti yang dimiliki oleh Mahapatih Gadjah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa atau semangat Bung Karno ketika memproklamirkan kemerdekaan? Jangan-janga semangat itu sudah hampir tidak ada lagi seiring dengan semakin apatisnya masyarakat banyak dengan keadaan yang ada saat ini.

Pada dasarnya semangat itu tergantung pada dua hal pokok (biasanya hal ini digunakan oleh seorang pemimpin dalam memimpin bawahannya mencapai tujuan bersama), yaitu (1) kepemimpinan itu sendiri, dan (2) motivasi.

Secara terinci dan singkat dapat dijelaskan sebagai berikut bagaimana seseorang (kelompok orang yang dipimpin) akan bersemangat bila ternyata semangat itu sendiri tidak tercermin dalam kepemimpinan pemimpinnya?

Bagaimana mungkin seseorang (kelompok orang yang dipimpin) akan bersemangat bilamana pemimpin yang telah dipilihnya ternyata hanya pintar bermain kata-kata tanpa mau bekerja, hanya sibuk menjaga image pribadinya, atau hanya sibuk melontarkan pertanyaan kepada bawahannya? Bukankah tugas pemimpin adalah bekerja dan bukan bertanya?

Atau bagaimana mungkin seseorang (kelompok orang yang dipimpin) akan bersemangat bilamana ternyata tidak ada konsistensi dalam perkataan dan perbuatan atau tidak seia sekatanya orasi dan janji yang sering diungkapkan dengan pelaksanaannya?

Selanjutnya bagaimana mungkin seseorang (kelompok orang yang dipimpin) akan bersemangat bilamana ternyata tidak ada yang memotivasi dirinya untuk melakukan yang terbaik? Ketika ternyata mereka dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata bukannya penghargaan (rewards) dalam bentuk apa pun (dalam arti luas) yang diperoleh, melainkan beban kesulitan hidup yang semakin mendera dari hari demi hari. Tentu bukannya semangat yang ada, tetapi "semaput" alias "megap-megap".

Bangsa ini memerlukan seorang seperti Gajah Mada, Bung Karno atau Rudy Hartono yang baru. Semangat ibarat sayap ajaib yang bisa membawa kita kemana saja. Berkat semangat satu kompi serdadu bisa mengalahkan satu batalion musuh yang jumlahnya sangat besar. Semangat adalah faktor penentu yang dicari setiap pemimpin. Semangat adalah bulldozer yang bisa mengubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Semoga bangsa ini dapat segera keluar dari kegelapan menuju cahaya gemerlap. Amin…

Comments »

The URI to TrackBack this entry is: http://personalization.blogsome.com/2007/12/13/fighting-spirit/trackback/

No comments yet.

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham