My confession

January 4, 2008

Akhirnya US$ 100

Filed under: Opini

Akhirnya setelah pada bulan-bulan terakhir tahun 2007 yang lalu harga minyak mentah dunia hampir mendekati US$100, harga minyak mentah dunia mencapai US$100 pada perdagangan di New York Mercantile Exchange pada tanggal 03 Januari 2008 kemarin untuk pengiriman bulan Februari mendatang. Harga ini tercapai setelah pemerintah AS mengumumkan penurunan cadangan minyak mentah yang dimilikinya melebihi perkiraan yang telah dilakukan.

Harga US$100 per barel ini (tentunya akan) membawa dampak signifikan bagi perekonomian (baik dunia secara umum maupun Indonesia khususnya) apalagi bilamana harga ini ternyata bertahan untuk jangka waktu lama. Bagi negara-negara pengekspor minyak baik yang tergabung dalam OPEC maupun tidak, tentunya dalam jangka pendek akan memperoleh windfall profit yang luar biasa. Namun dalam jangka panjang kemungkinan besar negara-negara tersebut tentunya tidak akan merasakan dampak windfall profit ini.

Fadel Gheit, Senior Energy Analyst di Oppenheimer Holdings menyampaikan "Staying at [the $100] level will mean inflation and economic hardship. Price has nothing to do with fundamentals, but it has a broad impact"  (Bertahan pada harga US$100 berarti inflasi dan ekonomi menjadi semakin berat. Harga tersebut tidak berhubungan dengan fundamental, tapi tentu saja (akan) memiliki dampak yang luas).

Semoga saja yang disampaikan Fadel Gheit tersebut di atas tidak menjadi kenyataan. Artinya semoga saja harga ini bukanlah trend dari harga minyak itu sendiri (Tom Kloza, Chief Analyst for the Oil Price Information Service, di Wall Street). Karena bila saja apa yang disampaikan Fadel Gheit tersebut di atas menjadi kenyataan, akan sangat sulit bagi pemerintah Indonesia untuk tidak menaikkan harga BBM di dalam negeri.

Hal ini terutama mengacu pada kenyataan bahwa secara faktual pada saat ini Indonesia bukan lagi termasuk negara pengekspor minyak bahkan sudah masuk dalam net imported walaupun masih ikut sebagai anggota OPEC. Entah mengapa kita tetap bertahan dalam keanggotaan di OPEC, padahal target 950.000 barel lifting minyak mentah pada tahun 2007 saja tidak tercapai (tercatat sampai dengan akhir 2007, total minyak mentah yang berhasil diproduksi mencapai 875.000 barel).  

Syarat Pendidikan Presiden

Filed under: Opini

Dalam salah satu artikel di Harian Kedaulatan Kakyat yang terbit pada Kamis, 03 Januari 2008 dikemukakan mengenai "Ijazah Presiden Disyaratkan S-1". Tanpa harus membaca lebih banyak dapat dipastikan bahwa hal ini lebih diarahkan untuk menjegal calon presiden tertentu (Megawati Soekarnoputri) dalam pilpres mendatang.

(Mungkin) menjadi pertanyaan banyak pihak mengapa hal-hal ini harus terus terjadi. Saling jegal-menjegal calon presiden baik yang dibungkus melalui bingkai konstitusi (UU) maupun melalui hal lain. Mengapa yang menjadi bahan perdebatan/perhatian hanyalah syarat pendidikan dan bukannya kompetensi kepemimpinan seorang calon secara keseluruhan?

Sebagaimana telah disampaikan dalam tulisan sebelumnya (Pemimpin "Luar Biasa") seorang Henry Kissinger mengingatkan bahwa untuk menjadi kepala negara tidak (hanya) perlu keintelektualan, tetapi kekuatan, keberanian, dan kecerdikan.

Dengan demikian ketika pada saat ini bangsa ini masih terjebak pada persyaratan akademis seorang presiden, dan bukan pada cara mencari seorang presiden yang kuat, berani dan cerdik, maka penulis agak sedikit pesimis bahwa bangsa ini dapat disebut sebagai bangsa yang "dewasa".






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham